Aku
melihatmu diantara bulan, diantara bintang-bintang yang asyik
bercengkerama dengan kelam malam. Entah apakah senyum yang tergambar di
raut wajahmu ataukah irisan dendam tak berpangkal. Penuh rasa rindu dan
dengan segala keterbatasan yang ku miliki, malam ini aku serasa ingin
menerbangkan sayap-sayapku kepadamu. Tak peduli sayap-sayap cintaku
ternyata telah remuk redam selama kurun waktu kebersamaan kita. Pun tak
mengapa bila perjumpaan kita akhirnya hanya ada dalam tidur lelahku yang
tak pernah terlelap.
Dia, sosok yang setiap malam aku dapati
diantara ribuan bintang, ditengah cahaya lembut bulan biru dan di setiap
pagi mendekapkan hangatnya mentari didadaku namun disetiap waktu yang
dimilikinya penuh kebanggaan karena mampu mengiris hatiku menjadi
keping-keping tak berbentuk dengan cintanya yang teramat angkuh untuk ku
miliki sepenuhnya. Beberapa rentang masa yang lalu dia ramah menjenguk
di tengah kemarau panjangku, menawarkan sejuknya air yang tak mampu lagi
kutampung dalam kendi-kendi hatiku, mengusap lukaku yang hampir
memborok dengan ketulusan yang tak bisa ku nilai dengan apapun. Dia,
adalah Jibril dalam hati, dalam hidupku.
“ Kasih sayang yang aku
tawarkan dan aku inginkan darimu”, bisiknya perlahan di ujung telingaku
malam itu setelah siangnya dia menulis di dinding sederet angka dan
huruf tak beraturan yang tak mampu ku maknai. Tanpa upacara aku dan dia
hari itu adalah sepasang pengantin yang tengah berlayar di langit biru
menuju bulan, menuju istana dan surga yang dibangunnya untukku. Aku
merayakannya sendiri dengan cahaya airmata dan bunga terimakasih namun
aku masih mampu tersenyum, karena dialah malaikat yang akan
mengantarkanku ke surga..
Malam-malam berlalu masih teramat
rajin memantulkan gambarnya meski terkadang mendung membungkus bulan dan
ribuan bintang dalam selimut kebesarannya. Akupun masih bisa menandai
segaris senyum di bibir dan pendar menggoda di matanya.
“ Aku
hanya ingin berbagi diri dan cintamu dengan bulan dan beribu bintang di
langit, bukan dengan orang lain dan tak ada orang lain!”. Maafkan aku
yang mulai mengikatmu dengan rasa kasih yang teramat dalam, tapi dia
hanya tersenyum merengkuh bahu mungilku, menghadiahkan kecupan hangat di
sudut bibir, sembari mengajakku bercerita tentang hidup. Hidup yang
baginya adalah memberi kehidupan bagi orang lain, itulah hidup yang
hakiki, hidup adalah ladang bakti bagi orangtua dan keluarga, juga orang
lain!. Hidup akan menemukan hakikatnya bilamana kita memahami
bahwasanya kita hidup bukanlah untuk diri sendiri tapi justru untuk
orang lain. Satu hal yang menjadi dasar kekagumanku pada sosok tegar
itu. Aku akan hidup untuk menghidupimu, malaikatku!
Jika malam
selalu menggambarkan bayangnya, maka pagi yang menjelma akan menyodorkan
cerita-cerita panjang tentang aku dan dia. Disinar surya itu ada pita
panjang berisikan jalinan kisah; suka, derai tawa, canda juga sedih,
sakit, cemburu, airmata bahkan dendam!!!! Karena perjalanan waktu
perlahan-lahan memberitahu bahwa bukan hanya aku yang diberinya hidup
tapi sederet nama lain; nama-nama yang juga tertulis dalam hatinya. Ya
Tuhan…bukankah aku pernah meminta agar hatimu hanya terbagi untukku dan
keluarga yang begitu engkau banggakan?…………..Tapi dia selalu berhasil
memetik bunga-bunga maaf atas segala pertanyaanku, memenuhi rongga
hidungku dengan wangi tulusnya dan airmata luka itu harus bisa ku telan
kembali.
Cinta tak pernah bersyarat begitu celoteh riang
burung-burung pada awan, pada hamparan langit dan puncak gunung
membisikkannya padaku; jangan pernah meminta, mengharap, menuntut apalagi memaksa pada cintamu karena itu bukanlah sebenar-benarnya cinta. Hingga gemuruh ombak lirih menenangkan cemburuku; kesejatian cinta adalah selalu memberi kebahagiaan tanpa pernah sekalipun menuntut balasan! Ah…malaikatku maafkan aku.
Sampai
akhirnya aku mesti banyak belajar pada terik matahari tentang panas
yang menyengat tapi tak perlu membakar sesuatu selama masih ada tetes
kesejukan membasah. Tak lupa aku diajari oleh hamparan pasir ditepian
pantai; betapapun ombak menghantamnya, memaksanya bergulir entah kedasar
lautan sedalam apa namun tetap berwujud seperti asalnya. Cinta tak
harus merubahku menjadi raksasa atau iblis yang terbakar cemburu. Bila
dia mengajariku tentang kehidupan maka aku belajar dari semesta tentang
bagaimana menghadapi hidup itu sendiri, hingga aku dan dia masih bisa
terus bergandengan tangan membelah hidup. Dan aku masih mampu
menciptakan seulas senyum ketika jemariku mengusap rambutnya, menidurkan
cintaku sementara langit-langit hatiku justru meneteskan pilunya.
Malam
ini masih seperti malam kemarin, diruangan persegi empat berdinding
putih, dingin dan kaku aku masih menatap ribuan, puluhan ribu atau
bahkan milyaran bintang dilangit-langit kamar. Diantaranya jelas
terlukis wajah berhias senyum samar. Dia yang kini entah tengah
menikmati hidupnya puluhan kilometer dariku, memaksaku merangkai
huruf-huruf kabur membayangkan nama siapa lagi yang akan ditulis di
dinding hatinya, dalam sebuah kamar yang mungkin akan bersebelahan
denganku hingga aku bisa mendengar janji-janji mereka, bahkan bisa
mengintipnya melingkarkan cincin sambil berucap; kasih sayang yang
kutawarkan dan kuinginkan darimu. Seperti yang pernah diucapkan padaku
lalu. Ah….bulanku, doa-doa tak cukup mengusir sesak karena
kesendirian ternyata hanya dan selalu menawarkan prasangka, maka ijinkan
aku membelah cahaya untuk masuk ke rahimmu. Biarkan waktu kelak
melahirkan aku menjadi salah satu bintang di langit, atau sebutir pasir
di pantai, pun sekedar buih ombak di hamparan laut hingga aku yang akan
menjadi guru bagi orang lain dalam menghadapi kehidupan.
Cintaku tak perlu menangis, rinduku tak usah mendendam karena aku ingin tetap hidup untuk menghidupimu.
Toili, 07 Pebruari 2006
kembali copas dari lembaran buku harian 5 tahun lalu dan kini yang sampulnya tak lagi berbentuk..hampir luruh digerayangi rayap