Tampilkan postingan dengan label Menulis Menulis dan Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis Menulis dan Menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Dengan Nama Allah....,

oleh Emma Hermawati pada 11 Agustus 2011 pukul 20:00
Meretas jalan yang telah dipersiapkan Allah dengan sempurnanya,
walau dengan beribu ketakmengertian akan makna demi makna yang terurai.
Hari ini, aku belum paham akan maksud Allah mempertemukan kita dengan cara yang jauh dari logika,
tapi keyakinan bahwa Allah telah sempurna mengatur kehendak hingga tak ada yang tak mungkin bagi-Nya
dan Allah tengah mempersiapkan kebahagiaan kita...
Dengan kawalan munajat "Ya Rabb bila menurut-Mu dia yang terbaik untuk dunia lebih2 untuk akhiratku maka pertemukan kami dalam Ridho-Mu namun bila menurut-Mu dia hanya akan membawa kemudharatan bagi dunia lebih2 bagi akhiratku maka berikan aku ganti yang lebih baik darinya"
Bismillah.....semua semata sebagai ibadah pada-Nya.

"Ode Sang Pecinta tuk Kekasihnya"

oleh Emma Hermawati pada 12 Agustus 2011 pukul 21:03
Aku bersimpuh dikebesaran semesta,
Mengadukan kekerdilanku,
Kenaifanku memaknai sebuah cinta.
Aku mengeluh..
Ketika semua cinta yang ku pahami dengan logika berlalu begitu saja.
Aku menangis..
Saat semua orang-orang terkasih pergi meninggalkan tanpa belas.
Hingga gema dzikir alam raya menggugah fitrah manusiawiku.
Hanya Allah yang terus mencintaiku!!
Lewat helaan nafas,
Denyut nadi
Detak jantung,
Lewat ragaku yang masih bernyawa detik ini….
Hanya Allah yang tak pernah berpaling dariku!!!!!
Lewat sinar matahari pagi yang membangunkan setelah lelapku semalam dan tak berjarak dari maut
Lewat lembut cahaya bulan biru nan mendinginkan panasku…
Allah-lah cinta sejati yang mestinya ku perjuangkan!


Saluan, 03 Sept 09
Copas dari buku harian berdebu yang tergeletak di kolong ranjang...

Catatan Cinta Semesta

oleh Emma Hermawati pada 12 Agustus 2011 pukul 21:12
Aku melihatmu diantara bulan, diantara bintang-bintang yang asyik bercengkerama dengan kelam malam. Entah apakah senyum yang tergambar di raut wajahmu ataukah irisan dendam tak berpangkal. Penuh rasa rindu dan dengan segala keterbatasan yang ku miliki, malam ini aku serasa ingin menerbangkan sayap-sayapku kepadamu. Tak peduli sayap-sayap cintaku ternyata telah remuk redam selama kurun waktu kebersamaan kita. Pun tak mengapa bila perjumpaan kita akhirnya hanya ada dalam tidur lelahku yang tak pernah terlelap.
Dia, sosok yang setiap malam aku dapati diantara ribuan bintang, ditengah cahaya lembut bulan biru dan di setiap pagi mendekapkan hangatnya mentari didadaku namun disetiap waktu yang dimilikinya penuh kebanggaan karena mampu mengiris hatiku menjadi keping-keping tak berbentuk dengan cintanya yang teramat angkuh untuk ku miliki sepenuhnya. Beberapa rentang masa yang lalu dia ramah menjenguk di tengah kemarau panjangku, menawarkan sejuknya air yang tak mampu lagi kutampung dalam kendi-kendi hatiku, mengusap lukaku yang hampir memborok dengan ketulusan yang tak bisa ku nilai dengan apapun. Dia, adalah Jibril dalam hati, dalam hidupku.
“ Kasih sayang yang aku tawarkan dan  aku inginkan darimu”, bisiknya perlahan di ujung telingaku malam itu setelah siangnya dia menulis di dinding sederet angka dan huruf tak beraturan yang tak mampu ku maknai. Tanpa upacara aku dan dia hari itu adalah sepasang pengantin yang tengah berlayar di langit biru menuju bulan, menuju istana dan surga yang dibangunnya untukku. Aku merayakannya sendiri dengan cahaya airmata dan bunga terimakasih namun aku masih mampu tersenyum, karena dialah malaikat yang akan mengantarkanku ke surga..
  Malam-malam berlalu masih teramat rajin memantulkan gambarnya meski terkadang mendung membungkus bulan dan ribuan bintang dalam selimut kebesarannya. Akupun masih bisa menandai segaris senyum di bibir dan pendar menggoda di matanya.
“ Aku hanya ingin berbagi diri dan cintamu dengan bulan dan beribu bintang di langit, bukan dengan orang lain dan tak ada orang lain!”. Maafkan aku yang mulai mengikatmu dengan rasa kasih yang teramat dalam, tapi dia hanya tersenyum merengkuh bahu mungilku, menghadiahkan kecupan hangat di sudut bibir, sembari mengajakku bercerita tentang hidup. Hidup yang baginya adalah memberi kehidupan bagi orang lain, itulah hidup yang hakiki, hidup adalah ladang bakti bagi orangtua dan keluarga, juga orang lain!. Hidup akan menemukan hakikatnya bilamana kita memahami bahwasanya kita hidup bukanlah untuk diri sendiri tapi justru untuk orang lain. Satu hal yang menjadi dasar kekagumanku pada sosok tegar itu.  Aku akan hidup untuk menghidupimu, malaikatku!
Jika malam selalu menggambarkan bayangnya, maka pagi yang menjelma akan menyodorkan cerita-cerita panjang tentang aku dan dia. Disinar surya itu ada pita panjang berisikan jalinan kisah; suka, derai tawa, canda juga sedih, sakit, cemburu, airmata bahkan dendam!!!! Karena perjalanan waktu perlahan-lahan memberitahu bahwa bukan hanya aku yang diberinya hidup tapi sederet nama lain; nama-nama yang juga  tertulis dalam hatinya. Ya Tuhan…bukankah aku pernah meminta agar hatimu hanya terbagi untukku dan keluarga yang begitu engkau banggakan?…………..Tapi dia selalu berhasil memetik bunga-bunga maaf atas segala pertanyaanku, memenuhi rongga hidungku dengan wangi tulusnya dan airmata luka itu harus bisa ku telan kembali.
Cinta tak pernah bersyarat begitu celoteh riang burung-burung pada awan, pada hamparan langit dan puncak gunung membisikkannya padaku; jangan pernah meminta, mengharap, menuntut apalagi memaksa pada cintamu karena itu bukanlah sebenar-benarnya cinta. Hingga gemuruh ombak lirih menenangkan cemburuku; kesejatian cinta adalah selalu memberi kebahagiaan tanpa pernah sekalipun menuntut balasan! Ah…malaikatku maafkan aku.
Sampai akhirnya aku mesti banyak belajar pada terik matahari tentang panas yang menyengat tapi tak perlu membakar sesuatu selama masih ada tetes kesejukan membasah. Tak lupa aku diajari oleh hamparan pasir ditepian pantai; betapapun ombak menghantamnya, memaksanya bergulir entah kedasar lautan sedalam apa namun tetap berwujud seperti asalnya. Cinta tak harus merubahku menjadi raksasa atau iblis yang terbakar cemburu. Bila dia mengajariku tentang kehidupan maka aku belajar dari semesta tentang bagaimana menghadapi hidup itu sendiri, hingga aku dan dia masih bisa terus bergandengan tangan membelah hidup. Dan aku masih mampu menciptakan seulas senyum ketika jemariku mengusap rambutnya, menidurkan cintaku sementara langit-langit hatiku justru meneteskan pilunya.
Malam ini masih seperti malam kemarin, diruangan persegi empat berdinding putih, dingin dan kaku aku masih menatap ribuan, puluhan ribu atau bahkan milyaran bintang dilangit-langit kamar. Diantaranya jelas terlukis wajah berhias senyum samar. Dia yang kini entah tengah menikmati hidupnya puluhan kilometer dariku, memaksaku merangkai huruf-huruf kabur membayangkan nama siapa lagi yang akan ditulis di dinding  hatinya, dalam sebuah kamar yang mungkin akan bersebelahan denganku hingga aku bisa mendengar janji-janji mereka, bahkan bisa mengintipnya melingkarkan cincin sambil berucap; kasih sayang yang kutawarkan dan kuinginkan darimu. Seperti yang pernah diucapkan padaku lalu. Ah….bulanku, doa-doa tak cukup mengusir sesak karena kesendirian ternyata hanya dan selalu menawarkan prasangka, maka ijinkan aku membelah cahaya untuk masuk ke rahimmu. Biarkan waktu kelak melahirkan aku menjadi salah satu bintang di langit, atau sebutir pasir di pantai,  pun sekedar buih ombak di hamparan laut hingga aku yang akan menjadi guru bagi orang lain dalam menghadapi kehidupan.
Cintaku tak perlu menangis, rinduku tak usah mendendam karena aku ingin tetap hidup untuk menghidupimu.

Toili, 07 Pebruari 2006
kembali copas dari lembaran buku harian 5 tahun lalu dan kini yang sampulnya tak lagi berbentuk..hampir luruh digerayangi rayap

Lebaran oh Lebaran

oleh Emma Hermawati pada 30 Agustus 2011 pukul 18:34
sekedar berbagi pikiran:
Dalam kehidupan sosial budaya secara umum, konsep Bhineka Tunggal Ika mugkin masah bisa diterima sebagai sesuatu yg wajar & biasa. Tapi dalam persoalan ibadah seperti penetapan 1 Syawal mis_apakah masih ada celah untuk perbedaan itu sehingga menjadi sesuatu yg lumrah, indah & perlu toleransi?  Miris rasanya medengar kalimat2 megenai perbedaan Idul Fitri yg cukup dimaknai seperti sebatas perbedaan budaya biasa yg jadi lebih indah karena ragamnya. Para umara & ulama mestinya bisa mengkaji penyebab permasalahan ini tanpa mengatasnamakan kepentingan masing2 sehingga umat muslim tidak perlu dibingungkan dengan persoalan perbedaan penetapan jatuhnya hari besar Islam seperti tahun2 terrakhir.

Janji Kita, Janji Matahari!!!!

oleh Emma Hermawati pada 8 September 2011 pukul 23:24
Matahari....pernahkah dia ingkar sehari saja, untuk tidak memberikan sinarnya pada kita????
Dia selalu ada disetiap pagi, kalaupun kita tak melihatnya di suatu waktu, itu bukan karena dia letih apalagi bosan, tapi mungkin ada mendung menghalangi tatapan kita untuk menembus cahayanya..
Pernah mungkin, bahkan bisa saja jadi sering..kita seperti tak mengharap kehadirannya atau mencaci kepanasannya tapi kita semua juga tak memungkiri kalau akan lebih sering kita merindu hangat sinarnya...
Nahh....Janji Matahari itulah yg mesti terpatri di hati kita semua, bahwa dalam keadaan apapun, dibawah tekanan sekeras apa, diantara tajam kritikan yg menusuk sakit telinga, ditengah protes bahkan cibiran dan hinaan..kita tetap seperti matahari yang setia pada janjinya! karena di suatu waktu juga akan ada yang merindukan keberadaan kita.
Matahari terlanjur terbit hari ini hingga janji itu juga mesti kita penuhi!

 Spirit buat Panitia Reuni Akbar 2011 Alumni SMA Negeri 1 Toili
*saya yakin, anda adalah putra-putra matahari yang juga tak pernah ingkar janji. Buktikan itu!!!!!!!*

Maluku Jauh Di Ambon, Malu-ku Ada Disini

oleh Emma Hermawati pada 30 September 2011 pukul 22:43
@ Warnet ERa.Net, sore....
diantara tumpukan kertas, kwitansi, nota, tanda terima dan sebagainya kami, saya dan bendahara panitia reuni akbar asyik menghitung angka-angka yang berkaitan dengan pemasukan dan pengeluaran reuni...(ceritanya laporan pertanggungjawaban panitia nihhhhh.....). angka-angka yg cukup memusingkan (pusing karena yang dihitung uangnya orang, coba uang pribadi...asyik2 aja hitungnya).
dan ditengah keasyikan kami hitung menghitung, seseorang masuk ke warnet yang tadinya hanya dipenuhi celotehan kami berdua, seorang cowok yang tadi siang browsing & menitipkan berkasnya. Cowok tadi langsung ke salah satu meja dan mulai asyik juga dengan aktivitasnya. Kami tetap asyik dengan rupiah2 & disela tindis-menindis keypad hp untuk menjumlah, teringat kaos yg masih ada di kord Acara Rika. Karena berpikir bahwa pelatihannya sudah selesai, saya mencoba  untuk menelponnya.
"halo, assalamu alaykum"....suara si merpati Rika langsung mampir dikuping
"wa alaykum salam wa rahmatullah....Bank Rakyat Indonesia selamat sore ada yang bisa dibantu?" nada suara sengaja saya buat meniru customer service dari bank, sengaja sebagai nada candaan pada Rika begitu dia lulus pada penerimaaan karyawan Bank pemerintah itu...
"Rika dimana???"
"lagi di MTC buu..."
"wahh klu gitu titipanku jgn lupa ya???? acne series 1 set"
"ok...ada lagi??"
"day cream & night cream, totalnya brapa?"
"seratus ribu lebih......"
"eeehh....skalian ma eyeshadow wrna natural yg cocok ma kulit sawo matang jelang busuk kayak kulitku....."
"hhhhmmmm ibu puber dehh...."
"haaahh....korban reuni"
*katanya tadi mau tanya masalah baju kaos????? iya...tapi bukan itu yg akan jadi permasalahan berikutnya, karena ternyata dua kalimat terakhir diatas yang membuahkan bencana malu bagiku di malam ini.....*

"Rika bilang2 torang puber padahal so dia yang bagitu" cerocosku begitu mengakhiri pembicaraan pada Rahma.
"memangnya kenapa ka'??"
"itu...rika so dia itu yang dapat untung paling banyak dari ini reuni, so dapat kerjaan gara2 reuni eehh...depe cinta juga dia dapat dari reuni..."
"aahhhaaa...yang betul ka'????"
"iya...itu yg malam reuni sama2 dgn dia, yang bantu dia anter2 surat undangan sunatan massal, ada dorang pe foto di upload di grup itu"
"clbk-kah???"
"bukan ji....cinta baru bede'....."

Santai, tanpa beban, tanpa apapun kami asyik bercerita tentang si merpati yg selama kegiatan reuni selalu dijadikan bahan kerjaan.....*anaknya lucu sihhh, jadi rame memang klu ada kicauannya.....hi hi hi...maap maap ya Rika?????*
Begitulah...sampai akhirnya proses  penghitungan suara selesai juga (pemilu kaleee....) dan pemenangnya adalah tetap kertas2 yang berserakan tadi. Menang karena mereka sukses membuat orang berpikir dan mengerutkan kening ketika ada rupiah yang tak sinkron satu sama lain.....huuuffttt......namanya juga pertanggungjawaban...ntar dikira kita lagi yang korupsi...

30 menit setelahnya, masih di warnet, masih dengan satu user cowok tadi yang menggunakan komputer tepat didepan meja server & lagi menelpon..sepertinya telponan dgn orang dekat...*dapa tau dri nada suaranya.....pe melowww skaleee...*...dan......kemudian di hp ku tiga sms yang bunyinya sama masuk di inbox : bu, bs tlp ksni skrg?
satu sms : td sore sptix ada yg mbhs ttg sy ni di warnet. Ehm..
serta satu panggilan tak terjawab
semuanya dari Rika.
Gaswaaatt......kayaknya penting, urgent, darurat dan kondisi siaga nihh.....harus telpon secepatnya!
"iya...ada apa de'??? wa alaykum salam wa rahmatullah..." uppsss...salamnya pun ketinggalan...
"bu...tadi ada ba gosip akan sy di warnet ya???"
"iya..memang sm rahma......" ga ngelak karena emang betul. berusaha jujur padahal dah mulai deg-degan...jangan2 ada yang salah lagi nih..."siapa yang kasih tau? Rahma nelpon ya????"
"hhmmm...orangnya sendiri bu yang bilang...pemeran utamanya....."
secepat kilat otakku berusaha menyambar kembali kejadian tadi sore & orang2 yg ada ada disini daaann....upppssssss mati awakkk...jangan2...jangan2.....jangan2.....cowok yg masih asyik didepanku ini...orang yang kami cerita tadi?????
"tunggu sebentar...tunggu...." suaraku mengecil namun dengan langkah seribu meninggalkan warnet...samar terdengar pertanyaan si merpati "bu diwarnetkah??? ibuu ada diwarnet...????"
"iya...iya....sstttttt....ampun...dia masih di depanku..."
"hhhmm...makanya bu...lain kali cerita itu diperhatikan kondisi dong...."

Waahhh.....kalau dengar istilah orang "satu kosong diaaa", kali ini bagi saya bukan hanya satu kosong tapi benar2 kosong dan banyak kosong.....ternyata user yg selama ini mampir diwarnetku, yang sangat membantu dikegiatan kami, yang kedepannya akan sering berurusan denganku mengenai kelompok tani dan distribusi pupuk subsidi adalah dia...dianya Rika???? yang tadi keliatan asyik browsing padahal dengan sangat jelas menangkap semua cerita kami tentang mereka?????
Tak pernah semalu ini rasanya....mana dia masih ada...ntar dia bayar warnet gimana??? nnati hari minggu ketemu lagi di pembubaran panitia, nanti akan begini, akan begitu. Berarti harus minta maaf nih....., kalau tidak selanjutnya silahkan bayangkan sendiri........

Cerita sore......untuk yang namanya ada disini, maaf jika merasa terganggu karena niat semata hanya ingin sharing kekonyolanku hari ini....