Tampilkan postingan dengan label Muhasabah Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah Diri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Kesempatan Kedua

Mungkin pernah disuatu ketika, kita kehilangan...barang berharga, peluang emas atau boleh jadi orang tercinta. Beragam rasa tercampur aduk....mungkin hampir mirip dengan rasa es teler oke atau es teler 77....ragamnya memabukkan, membuat kita teler sejenak bahkan linglung berhari-hari..
Saat itu mungkin kita sempat protes pada sang sutradara, kenapa peluang kita dihilangkan??? kenapa barang berharga kita yg belum sempat puas dinikmati dihilangkan, kenapa orang-orang terkasih pun ditiadakan dari sisi kita??? padahal kita "merasa" butuh semuanya itu...
Tapi..pernahkah sejenak kita berpikir menggunakan logika dengan alur yang terbalik????? Allah, Sang Sutradara kehidupan mungkin saja tengah menyiapkan kesempatan kedua bagi kita karena melihat dan tahu pasti bahwa dikesempatan pertama kita tak sungguh-sungguh menikmatinya. Dia ternyata tengah memberi kesempatan kedua bagi kita merasakan kembali proses memaknai bahagia ketika bisa mendapatkan semua keinginan itu dari awal. Bagaimana pertama kita merasai memiliki kendaraan baru, rumah baru, barang2 berharga baru atau pendamping baru pula.
Jadi....lewati saja semua rasa kehilangan itu selagi kita tak pernah kehilangan hidayah Allah...karena boleh jadi itu adalah kesempatan kedua kita untuk lebih bahagia dari kesempatan pertama.

Selasa, 03 Januari 2012

21 Juni 2011

oleh Emma Hermawati pada 22 Juni 2011 pukul 21:11
Jarum jam sudah berdetak di kisaran angka 11 malam 21 Juni 2011 ketika handphone ku berdering, lalu suara yg dalam 6 hari terakhir sering mampir terdengar lirih.." jemput saya besok " dan meski sama lirihnya kalimat berikut yang meluncur justru seperti petir ditelingaku. " Pak Yusuf sudah tiada, saya ingin menemuinya untuk yang terakhir kali "...Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un...kehendak Allah terkadang tidak pernah mampu kita prediksikan bahkan dengan logika ilmu pengetahuan sekalipun.
Telepon itu, suara itu milik sahabatku. Bukan...bukan hanya sahabat tapi saudaraku yang 6 tahun ini ku ajak untuk sama-sama mengais rezeki di kota yang jauh dari sanak keluarganya. Dan laki-laki yang telah berpulang itu adalah laki-laki yang ingin melamarnya, laki-laki yang hari kamis seminggu lalu masih bugar dengan semangat hendak menempuh ribuan kilometer perjalanan darat melintasi dua propinsi selama 48 jam hanya untuk membuktikan keseriusannya. Aku masih mengingat dengan jelas kaca yang membening di mata mereka berdua yang membuatku menerka seberat apa perjuangan yang akan mereka jalani.  Laki-laki itu adalah seorang duda.
Benar, dua hari kemudian setiba mereka di kota tujuan hari-hariku terlewati dengan dering demi dering nada telepon & SMS berisi rangkaian cerita peristiwa. Sang sahabat mati-matian meyakinkan orangtua tercinta bahwa laki-laki itu meski dengan status dudanya adalah seorang pria bebas yang tidak terikat perkawinan dengan siapapun dan Sang Bapak juga mati-matian mempertahankan pendapatnya bahwa sang sahabat tidak akan pernah bahagia hidup bersama dengan laki-laki seperti itu. Perang ego dimulai. Dan lalu mulai berwarna dengan sentuhan perbedaan budaya, perbedaan status, perbedaan prinsip serta beraneka perbedaan-perbedaan lainnya dan semua tetap atas nama kasih sayang!
" Bicaralah dari hati ke hati dengan saudaramu, katakan padanya bapak sangat menyayanginya " itu kata sang bapak...
" Kalau kau berbicara dengan bapak tolong sampaikan rasa sayangku yang teramat dalam pada beliau " yang ini ujar sahabatku...
Tapi ternyata atas dasar kasih sayang pun tetap tak mampu membangun jembatan komunikasi yang baik di antara mereka hingga perbedaan itu akhirnya menggariskan takdir sang Laki-laki untuk kembali ke kotanya sendiri dengan sebuah penolakan, sang Bapak mengajukan syarat yang terlampau berat untuk dipenuhi, sang laki-laki mesti pindah ke kota itu dan artinya ia mesti meninggalkan anak-anak tercintanya. Tapi tak ada yang bisa disalahkan!
Masih jelas, ditengah perjalanan pulangnya sempat sang laki-laki menghubungiku. Aku seperti melihatnya menerawang ketika berucap betapa jauhnya perjalanan yang dia tempuh....mungkin ketika itu, ketika dia di hadapkan pada sebuah pilihan hidup jiwanya justru telah melihat sebuah jalan abadi yang akan membawanya pada Sang Khalik. namun kedangkalan pikiran manusiaku tak mampu menangkap pertanda yang dia beri ketika dia berucap tak akan lagi bisa menjumpai belahan hatinya.
Hanya dalam hitungan jam sejak sang laki-laki sempat merebahkan diri dirumahnya, setelah ia bertutur ingin istirahat yang panjang pada sahabat-sahabatnya hingga akhirnya ia benar-benar pergi, benar-benar beristirahat. Kelelahan selama perjalanan panjang melintasi Sulawesi dan shock jantung yang diklaim dokter sebagai penyebabnya. Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi kecuali Allah Swt.
Sahabatku pergilah dengan tenang....
Menghadaplah Rabb-Mu dengan tenang hai jiwa-jiwa yang diberkahi....


Notes: Tuk saudaraku, maafkan kelancanganku menulis kisahmu. Peristiwa ini benar2 renungan untukku.

Ketika Allah berkehendak

oleh Emma Hermawati pada 1 Juli 2011 pukul 0:07
Ketika Allah menetapkan jalan hidup yg semula lurus-lurus saja, mulus tanpa bebatuan halangan, indah dengan latar kebahagiaan tiba-tiba tanpa notifikasi sedikitpun berbalik 180 derajat menjadi jalan terjal, berliku, penuh hamparan batu-batu tajam yg setiap saat siap menerima pijakan rapuh kaki kita dan ditepian jurang yg tak mampu kita tangkap kedalamannya, apa yang bisa kita perbuat?????
Berontak mungkin ada dalam pikiran yg kalut, mencari kambing hitam (karena kambing-kambing putih lainnya sudah tak ada) bisa jadi alternatif no 1  ditambah berderet alternatif2 lainnya yg bisa jadi juga tidak kalah menyesatkannya. Tapi tidak kalah sering, ketika kita berada disaat seperti itu setitik hidayah Allah tiba-tiba seperti membasuh jiwa, menentramkan! terlebih ketika kita mampu memaknai aneka cobaan tersebut sebagai sebuah ujian agar kita bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Ketika Allah berkehendak itulah....kumpulkan segenap totalitas pasrah yang ada, karena sesungguhnya hanya pada Rabb-mu lah muara keluah, kesah dan bahagia manusia..

Nikmatnya Ikhlas

oleh Emma Hermawati pada 12 Desember 2011 pukul 21:25
Ketika ingin marah karena "merasa" ada orang tengah merampas hak kita, 
ketika ingin berontak karena "merasa" terkekang oleh hal-hal yang tak "benar" menurut kita, 
ketika "merasa" ketakadilan tengah mengurung kita, 
bahkan ketika "merasa" tengah hidup sendirian didunia yang maha luas ini, 
cobalah berdiri sejenak, mematungkan hati dan pikiran ke angkasa, ke semesta dan sadarilah bahwa boleh saja orang lain tak menemani kesedihan kita, boleh jadi orang tercinta tak mampu ber-empati pada sakit kita namun Allah ternyata tak pernah membiarkan kita sendirian. 
Dia selalu ada disana, disini, disetiap ruang dan waktu..
Kita hanya perlu membuka celah kecil di relung hati untuk sebuah rasa dengan efek maha dasyat bernama IKHLAS kemudian mengalirkan ikhlas tersebut ke seluruh tubuh melalui aliran darah, helaan nafas, detak jantung dan urat nadi.
Hanya perlu melakukan itu dan biarkan rasa IKHLAS tadi yang bekerja otomatis untuk menenangkan amarah kita, menyembuhkan rasa sakit kita.
Dan ternyata tak ada yang merampas hak kita karena adilnya Allah yang telah membagi rezeki pada semua makhluknya, kalaupun belum kita nikmati saat ini maka akan ada hari esok.
Tak ada yang mengekang kita kecuali hawa nafsu kita sendiri.
Bukan kita yang berhak menentukan adil tidaknya sesuatu karena Allah Sang Maha Adil telah menetapkan di Lauh Mahfudz apa-apa yang kepunyaan kita dan milik orang.
Dan bukankah Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri?????
Sehingga tak ada alasan untuk mengatakan orang-orang tak peduli.
Biarkanlah kalau memang saat itu hanya Allah yang peduli pada kita karena itu jauh lebih penting!
Biarkan KEIKHLASAN itu meyakinkan kita bahwa tak pernah pantas kita mengeluh untuk hidup yang telah diatur dengan SEMPURNA-nya oleh Sang Maha Sempurna, Allah Swt.

Jumat, 07 Oktober 2011

07 Oktober 2011

Dari pedalaman Selayar, keluarga itu dengan seluruh kerabatnya adalah orang-orang yang tak terbiasa bahkan nyaris tak pernah melakukan sesuatu untuk merayakan sebuah hari dalam hitungan tahun yang bernama hari jadi, hari lahir atau apapun istilah lainnya...saya salah seorang yang terlahir dari kelompok itu. Setiap tanggal 07 Oktober hanya sama dengan hari-hari lainnya..tak ada ucapan, tak ada kado, tak ada tiupan lilin apalagi tepukan tangan & nyanyian "Happy Birthday & Selamat Ulang Tahun" dari teman2, sahabat, keluarga, saudara apalagi orang tua. Semua sama datarnya....
Sekali pernah, saya "mencoba" meminta pada orangtua untuk merayakan ulangtahun ke-17 ditahun 1995..itupun setelah melihat sebagian besar teman sekolah melakukan hal yg sama dan sepertinya sangat mengasyikkan...dan dibuatlah sebuah "perayaan" yg sangat apa adanya.....dan setelah itu saya justru merasakan tengah berada di dunia yang lain yang aneh.
Kali berikutnya saya kembali mencoba merayakan hari jadi adik, yang juga merengek, setengah memaksa setelah hampir disetiap hari dia menerima undangan ulangtahun dari teman2 sebayanya. Dibuatkanlah...kali agak meriah karena ada kue ulangtahun untuk dipotong lengkap dengan lilin yg siap ditiup serta dimeriahkan dengan hiasan balon, lagu anak2 serta tumpukan kado disudut rumah....alhamdulillah setelah itu tak sekalipun terucap permintaan yanng sama di tanggal yg sama pada tahun2 berikutnya.
Semua kondisi itu mempersiapkan saya ketika pada akhirnya mulai menambah pengetahuan keagamaan bahwa sesungguhnya Rasulullah tak pernah mensunnahkan kita untuk mengucapkan selamat apalagi merayakan hari jadi tersebut. Secara logis saya mulai berpikir kebenarannya..... setiap pertambahan umur dasarnya adalah pengurangan waktu hidup kita itu sendiri. Allah telah menjatah saya dengan usia 80 tahun misalnya, maka di ulang tahun 1 jatah hidup saya tinggal 79, begitu seterusnya, nah jika sekarang sudah 33 tahun saya diberi kesempatan hidup maka tinggal berapa waktu saya untuk bertaubat & memperbaiki segala kesalahan serta kembali mempersiapkan perbekalan untuk di kehidupan abadi, kehidupan tanpa ulangtahun???.....lalu itukah yang akan kita rayakan dengan segala embel2nya???
yaahh..akan ada yang berkata, bahwa perayaan itu hanya sebatas ungkapan syukur karena kita masih di beri umur panjang (oaalaahh...umur panjang gimana to, lha hitungannya tadi justru umur kita makin pendek??? yg tambah besar, tambah panjang itu cuma angkanya saja...dari 1 tahun jadi 2, jadi 3, jadi 4...., jadi 10..., jadi 20 tahun dan seterusnya, hakikatnya  tetap pada pengurangan jatah hidup).
Okeyy..kita bersyukur, memilih rasa syukur pada limpahan rezki kesehatan sehingga masih terus bisa numpang di muka bumi? atau bersyukur karena tujuan hidup kita untuk bertemu sang Khalik makin dekat????? andalah yang memilih syukur apa yang kiranya tepat untuk dihaturkan....

Muhasabah diri...
waktuku kian habis, kian mendekat pada-Nya.