Selasa, 03 Januari 2012

Maluku Jauh Di Ambon, Malu-ku Ada Disini

oleh Emma Hermawati pada 30 September 2011 pukul 22:43
@ Warnet ERa.Net, sore....
diantara tumpukan kertas, kwitansi, nota, tanda terima dan sebagainya kami, saya dan bendahara panitia reuni akbar asyik menghitung angka-angka yang berkaitan dengan pemasukan dan pengeluaran reuni...(ceritanya laporan pertanggungjawaban panitia nihhhhh.....). angka-angka yg cukup memusingkan (pusing karena yang dihitung uangnya orang, coba uang pribadi...asyik2 aja hitungnya).
dan ditengah keasyikan kami hitung menghitung, seseorang masuk ke warnet yang tadinya hanya dipenuhi celotehan kami berdua, seorang cowok yang tadi siang browsing & menitipkan berkasnya. Cowok tadi langsung ke salah satu meja dan mulai asyik juga dengan aktivitasnya. Kami tetap asyik dengan rupiah2 & disela tindis-menindis keypad hp untuk menjumlah, teringat kaos yg masih ada di kord Acara Rika. Karena berpikir bahwa pelatihannya sudah selesai, saya mencoba  untuk menelponnya.
"halo, assalamu alaykum"....suara si merpati Rika langsung mampir dikuping
"wa alaykum salam wa rahmatullah....Bank Rakyat Indonesia selamat sore ada yang bisa dibantu?" nada suara sengaja saya buat meniru customer service dari bank, sengaja sebagai nada candaan pada Rika begitu dia lulus pada penerimaaan karyawan Bank pemerintah itu...
"Rika dimana???"
"lagi di MTC buu..."
"wahh klu gitu titipanku jgn lupa ya???? acne series 1 set"
"ok...ada lagi??"
"day cream & night cream, totalnya brapa?"
"seratus ribu lebih......"
"eeehh....skalian ma eyeshadow wrna natural yg cocok ma kulit sawo matang jelang busuk kayak kulitku....."
"hhhhmmmm ibu puber dehh...."
"haaahh....korban reuni"
*katanya tadi mau tanya masalah baju kaos????? iya...tapi bukan itu yg akan jadi permasalahan berikutnya, karena ternyata dua kalimat terakhir diatas yang membuahkan bencana malu bagiku di malam ini.....*

"Rika bilang2 torang puber padahal so dia yang bagitu" cerocosku begitu mengakhiri pembicaraan pada Rahma.
"memangnya kenapa ka'??"
"itu...rika so dia itu yang dapat untung paling banyak dari ini reuni, so dapat kerjaan gara2 reuni eehh...depe cinta juga dia dapat dari reuni..."
"aahhhaaa...yang betul ka'????"
"iya...itu yg malam reuni sama2 dgn dia, yang bantu dia anter2 surat undangan sunatan massal, ada dorang pe foto di upload di grup itu"
"clbk-kah???"
"bukan ji....cinta baru bede'....."

Santai, tanpa beban, tanpa apapun kami asyik bercerita tentang si merpati yg selama kegiatan reuni selalu dijadikan bahan kerjaan.....*anaknya lucu sihhh, jadi rame memang klu ada kicauannya.....hi hi hi...maap maap ya Rika?????*
Begitulah...sampai akhirnya proses  penghitungan suara selesai juga (pemilu kaleee....) dan pemenangnya adalah tetap kertas2 yang berserakan tadi. Menang karena mereka sukses membuat orang berpikir dan mengerutkan kening ketika ada rupiah yang tak sinkron satu sama lain.....huuuffttt......namanya juga pertanggungjawaban...ntar dikira kita lagi yang korupsi...

30 menit setelahnya, masih di warnet, masih dengan satu user cowok tadi yang menggunakan komputer tepat didepan meja server & lagi menelpon..sepertinya telponan dgn orang dekat...*dapa tau dri nada suaranya.....pe melowww skaleee...*...dan......kemudian di hp ku tiga sms yang bunyinya sama masuk di inbox : bu, bs tlp ksni skrg?
satu sms : td sore sptix ada yg mbhs ttg sy ni di warnet. Ehm..
serta satu panggilan tak terjawab
semuanya dari Rika.
Gaswaaatt......kayaknya penting, urgent, darurat dan kondisi siaga nihh.....harus telpon secepatnya!
"iya...ada apa de'??? wa alaykum salam wa rahmatullah..." uppsss...salamnya pun ketinggalan...
"bu...tadi ada ba gosip akan sy di warnet ya???"
"iya..memang sm rahma......" ga ngelak karena emang betul. berusaha jujur padahal dah mulai deg-degan...jangan2 ada yang salah lagi nih..."siapa yang kasih tau? Rahma nelpon ya????"
"hhmmm...orangnya sendiri bu yang bilang...pemeran utamanya....."
secepat kilat otakku berusaha menyambar kembali kejadian tadi sore & orang2 yg ada ada disini daaann....upppssssss mati awakkk...jangan2...jangan2.....jangan2.....cowok yg masih asyik didepanku ini...orang yang kami cerita tadi?????
"tunggu sebentar...tunggu...." suaraku mengecil namun dengan langkah seribu meninggalkan warnet...samar terdengar pertanyaan si merpati "bu diwarnetkah??? ibuu ada diwarnet...????"
"iya...iya....sstttttt....ampun...dia masih di depanku..."
"hhhmm...makanya bu...lain kali cerita itu diperhatikan kondisi dong...."

Waahhh.....kalau dengar istilah orang "satu kosong diaaa", kali ini bagi saya bukan hanya satu kosong tapi benar2 kosong dan banyak kosong.....ternyata user yg selama ini mampir diwarnetku, yang sangat membantu dikegiatan kami, yang kedepannya akan sering berurusan denganku mengenai kelompok tani dan distribusi pupuk subsidi adalah dia...dianya Rika???? yang tadi keliatan asyik browsing padahal dengan sangat jelas menangkap semua cerita kami tentang mereka?????
Tak pernah semalu ini rasanya....mana dia masih ada...ntar dia bayar warnet gimana??? nnati hari minggu ketemu lagi di pembubaran panitia, nanti akan begini, akan begitu. Berarti harus minta maaf nih....., kalau tidak selanjutnya silahkan bayangkan sendiri........

Cerita sore......untuk yang namanya ada disini, maaf jika merasa terganggu karena niat semata hanya ingin sharing kekonyolanku hari ini....

Magrib di Ujung Waktu

oleh Emma Hermawati pada 20 November 2011 pukul 20:38
Magrib kesekian,
di batas siang dan malam itu sesosok berlutut memeluk angin di sudut jendela.
Rumah tua, setua penghuni, setua mimpi yang tak pernah sampai adalah surganya.
Tak peduli lalu lalang orang-orang di sisinya dengan seretan langkah yang terkadang menginjak ujung kelingking.
Berdarah.
Tapi perih tak nampak di kerutan wajah yang beku.
Dia memahat mummi di tubuhnya.
Bertapa.
Namun mummi itu sesungguhnya masih punya jiwa!
Jiwanya yang setia berputar-putar pada kebekuan sore, kedinginan malam bahkan di kehangatan pagi.
Jiwa yang nampak pada buliran air setetes demi setetes disudut mata.
Jiwa yang datang dari labirin waktu dan setia menyapa "kini malam-Mu telah datang dan suara-suara penyeru-Mu telah diperdengarkan, maka Ampunilah kami..."

Magrib berlalu,
sesosok tadi ringkih ditiup angin, di sudut jendela lapuk, membaringkan mimpi.
Tak ada lagi yang berkenan lalu lalang di sekitaran tubuhnya.
Darah dikelingking tak lagi berbekas.
Pias warnanya.
Tapi jiwa yang tadi bertapa dikebekuan kini seperti merpati di ujung awan.
Langit adalah kebebasannya.....

Nikmatnya Ikhlas

oleh Emma Hermawati pada 12 Desember 2011 pukul 21:25
Ketika ingin marah karena "merasa" ada orang tengah merampas hak kita, 
ketika ingin berontak karena "merasa" terkekang oleh hal-hal yang tak "benar" menurut kita, 
ketika "merasa" ketakadilan tengah mengurung kita, 
bahkan ketika "merasa" tengah hidup sendirian didunia yang maha luas ini, 
cobalah berdiri sejenak, mematungkan hati dan pikiran ke angkasa, ke semesta dan sadarilah bahwa boleh saja orang lain tak menemani kesedihan kita, boleh jadi orang tercinta tak mampu ber-empati pada sakit kita namun Allah ternyata tak pernah membiarkan kita sendirian. 
Dia selalu ada disana, disini, disetiap ruang dan waktu..
Kita hanya perlu membuka celah kecil di relung hati untuk sebuah rasa dengan efek maha dasyat bernama IKHLAS kemudian mengalirkan ikhlas tersebut ke seluruh tubuh melalui aliran darah, helaan nafas, detak jantung dan urat nadi.
Hanya perlu melakukan itu dan biarkan rasa IKHLAS tadi yang bekerja otomatis untuk menenangkan amarah kita, menyembuhkan rasa sakit kita.
Dan ternyata tak ada yang merampas hak kita karena adilnya Allah yang telah membagi rezeki pada semua makhluknya, kalaupun belum kita nikmati saat ini maka akan ada hari esok.
Tak ada yang mengekang kita kecuali hawa nafsu kita sendiri.
Bukan kita yang berhak menentukan adil tidaknya sesuatu karena Allah Sang Maha Adil telah menetapkan di Lauh Mahfudz apa-apa yang kepunyaan kita dan milik orang.
Dan bukankah Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri?????
Sehingga tak ada alasan untuk mengatakan orang-orang tak peduli.
Biarkanlah kalau memang saat itu hanya Allah yang peduli pada kita karena itu jauh lebih penting!
Biarkan KEIKHLASAN itu meyakinkan kita bahwa tak pernah pantas kita mengeluh untuk hidup yang telah diatur dengan SEMPURNA-nya oleh Sang Maha Sempurna, Allah Swt.