Selasa, 03 Januari 2012

Lebaran oh Lebaran

oleh Emma Hermawati pada 30 Agustus 2011 pukul 18:34
sekedar berbagi pikiran:
Dalam kehidupan sosial budaya secara umum, konsep Bhineka Tunggal Ika mugkin masah bisa diterima sebagai sesuatu yg wajar & biasa. Tapi dalam persoalan ibadah seperti penetapan 1 Syawal mis_apakah masih ada celah untuk perbedaan itu sehingga menjadi sesuatu yg lumrah, indah & perlu toleransi?  Miris rasanya medengar kalimat2 megenai perbedaan Idul Fitri yg cukup dimaknai seperti sebatas perbedaan budaya biasa yg jadi lebih indah karena ragamnya. Para umara & ulama mestinya bisa mengkaji penyebab permasalahan ini tanpa mengatasnamakan kepentingan masing2 sehingga umat muslim tidak perlu dibingungkan dengan persoalan perbedaan penetapan jatuhnya hari besar Islam seperti tahun2 terrakhir.

Izinkan kami mencium wangi surga ditelapak kakimu, Bunda.

oleh Emma Hermawati pada 31 Agustus 2011 pukul 11:09
Wajah tua itu telah dipenuhi kerut merut..tapi yang tak pudar kelembutannya
yang selalu berusaha tersenyum didepan kita, anak-anaknya..
tegakah kau, adik-adikku menghapus ketulusan senyum itu dengan tingkah tak terpuji?
tegakah kita meneteskan air di matanya yang bahkan mata itu tak menangis ketika ia kehilangan sandaran hidupnya dua belas tahun yg lalu?
Demi Allah...betapa berdosanya kita ketika ulah kitalah yg membuat ia mesti mengelus dada...
Bunda....satu-satunya harta paling berharga yg kita miliki saat ini..
Ia satu-satunya orang di muka bumi yang tak mampu menelan sesuap makanan enak tanpa berkata "bagaimana bisa ku menyantap makanan seenak ini sementara jauh disana anak-anakku tak merasakannya?"
Hanya ia orang di  dunia yang selalu berkata "bagaimana bisa aku hidup berkecukupan disini sementara jauh disana anak-anakku belajar dan kerja dengan hidup yang apa adanya?"
Tak ada orang lain yang pontang panting ketika satu persatu permintaan anak-anaknya menghampiri....
tapi wajah tua yang telah penuh kerut merut itu tak bergeming. Dengan segala kesederhanaannya Ia terlalu perkasa dimataku..
Hari ini....di kursi tua itu ia duduk menunggu dengan surganya dan alangkah meruginya kita yang terlahir dari rahim sucinya sementara tak mampu kita meraih ridha Allah darinya...
Bunda....hari ini izinkan kami, anak-anakmu tuk dapat mencium wangi surga ditelapak kakimu.....

Janji Kita, Janji Matahari!!!!

oleh Emma Hermawati pada 8 September 2011 pukul 23:24
Matahari....pernahkah dia ingkar sehari saja, untuk tidak memberikan sinarnya pada kita????
Dia selalu ada disetiap pagi, kalaupun kita tak melihatnya di suatu waktu, itu bukan karena dia letih apalagi bosan, tapi mungkin ada mendung menghalangi tatapan kita untuk menembus cahayanya..
Pernah mungkin, bahkan bisa saja jadi sering..kita seperti tak mengharap kehadirannya atau mencaci kepanasannya tapi kita semua juga tak memungkiri kalau akan lebih sering kita merindu hangat sinarnya...
Nahh....Janji Matahari itulah yg mesti terpatri di hati kita semua, bahwa dalam keadaan apapun, dibawah tekanan sekeras apa, diantara tajam kritikan yg menusuk sakit telinga, ditengah protes bahkan cibiran dan hinaan..kita tetap seperti matahari yang setia pada janjinya! karena di suatu waktu juga akan ada yang merindukan keberadaan kita.
Matahari terlanjur terbit hari ini hingga janji itu juga mesti kita penuhi!

 Spirit buat Panitia Reuni Akbar 2011 Alumni SMA Negeri 1 Toili
*saya yakin, anda adalah putra-putra matahari yang juga tak pernah ingkar janji. Buktikan itu!!!!!!!*